Di postingan sebelumnya aku telah menceritakan tentang bagaimana begonya bahasa Jepangku. Kali ini aku akan menceritakan saat tragis menghadapi Ulangan bahasa Jepang kemarin.
Kemarin adalah hari yang paling sial atau tepatnya hari yang membuat aku terlihat bego. Saat akan menunggu dimulainya Ulangan tersebut aku mengalami depresi yang amat sangat dalam karena dalam menghadapinya aku tidak bermodal apa-apa dan hanya bermodal pesan wasiat dari leluhur " Anakku, sebelum mengerjakan ulangan baca doa terlebih dahulu ". Dengan hanya wasiat tersebut aku mencoba mengumpulkan tekad dan keberanian agar setidak-tidaknya tidak mendapatkan nilai 0, karena apabila mendapatkan nilai melebihi dari 20 adalah kemenangan dalam menghadapi perang ini ( Maklum nilai Jepangku adalah salah satu yang terjelek di galeksi bimaksati ).
Ulangan pun dimulai tepat jam 7 pagi, aku yang hanya bermodalkan kegantengan, wasiat leluhur, dan kenistaan mencoba menghadapi kejamnya dunia. Soal pun dibagikan oleh pengawas, dan aku mencoba membaca doa agar diberi kemudahan atau kunci jawaban oleh Tuhan (doa ini aku lakukan sehari semalam). Ketika mencoba menyentuh lembar nista tersebut untuk aku baca, akhirnya muncul senyuman indah di mulutku yang kotor dan kemudian muncul juga air mata dari mataku "Mak, babe, nyak, bokap, nyokap, aku gagal menghadapi soal nista ini". Soalnya Subhanallah susah sekali, rasanya pengen sekali ngambil penggaris buat bunuh diri di kelas, tetapi sehubungan betapa banyaknya orang yang masih membutuhkan pria ganteng seperti aku, maka aku batalkan niat tersebut.
Selama ulangan aku hanya melihat teman-teman yang terlihat mudah mengerjakan soal kampret tersebut. Ya Tuhan apakah aku begitu bodohnya. Rasanya ingin sekali mencontoh teman-teman tetapi aku ingat pesan rahasia dari ibu "Anakku janganlah berbuat curang dalam hal apapun". Akhirnya selama ulangan tersebut aku hanya bisa baca soal-pingsan-siuman-baca soal-pingsan-siuman-boker dicelana-pingsan-lupa cebok-jam habis. Setelah jam ulangan tersebut habis aku pun keluar ruangan dengan penuh kegagalan seutuhnya. Satu kata untuk kemarin adalah GAGAL.
Demikianlah kisah tragisku kemarin, maaf kepada sensei yang akan mengoreksi soal ulangan ku. Aku pastikan sensei akan sangat menyesal mempunyai murid sepertiku, bahkan akan pensiunan dini agar tidak mengajarku. TRAGIS.
0 komentar:
Posting Komentar